Minggu, 13 Oktober 2013

MENJAGA LISAN..BANYAK BICARA...SUM'AH...SOMBONG




MENJAGA LISAN

1.      Imam Al-Auza'i rahimahullah berkata:
 
المؤمن يقل الكلام ويكثر العمل والمنافق يكثر الكلام ويقل العمل

"Orang beriman itu sedikit bicara dan banyak beramal, sedangkan orang munafik itu banyak bicara sedikit amal." (Tanbihul Ghafilin, hal. 102)

2.      Umar bin Khaththab berkata:

من كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه كثرت ذنوبه ومن كثرت ذنوبه كانت النارأولى به 

"Barangsiapa yang banyak omongnya, banyak pula keburukannya. Barangsiapa yang banyak keburukannya, maka ia banyak dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya." (Jami'ul Ulum wal Hikam, I: 135) 

CELAAN BANYAK BICARA


1.      Imam Hasan Al-Bashri berkata:
كفارة الغيبة أن تستغفر لمن اغتبته

"Kafaroh ghibah adalah memintakan ampunan untuk orang yang engkau bicarakan." (Majmu'ul Fatawa, Ibnu Thaimiyyah, III: 182)  
2.      Ibnu Aun berkata:

ذكر الناس داء وكر الله دواء

"Membicarakan (aib) manusia adalah penyakit dan mengingat Allah adalah obat." (Manhaj Ahlis Sunnah Wal-Jama'ah fin Naqdi wal-Khukmi alal-Akhorin, Hisyam bin Isma'il Ash-Shayan, hal. 73)


SUM'AH

1.      Fudhail bin Iyadh berkata:

من أحب أن يذكر لم يذكر ومن كره أن يذكر ذكر

"Barangsiapa yang suka untuk disebut-sebut namanya, maka ia tidak akan terkenal. Dan barangsiapa yang benci untuk disebut-sebut namanya, maka ia akan terkenal." (Siyar A'lamin Nubala', 432)

SOMBONG

1.      Aun bin Abdullah berkata:

كفى بك من الكبر أن ترك لك فضلا على من هو دونك

"Cukuplah kesombongan itu menghilangkan kelebihanmu di hadapan orang-orang dibawahmu." (Shifatus Shafwah, III: 201)



     2.   Imam Mujahid Rahimahullah berkata:
لا يتعلم العلم جبار ولا مستكبر ولا مستحي
.
“Tiada mendapatkan ilmu orang yang berlaku sewenang-wenang, orang yang sombong dan pemalu.” (Al-Faqih Wal-Mutafaqqih, II: 300)
 

Sabtu, 12 Oktober 2013

PENGARUH BERBUAT DOSA....TENTANG MUNAFIK...



 
PENGARUH BERBUAT DOSA

1.      Imam Malik menasihati imam Syafi'i, dengan mengatakan :
إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورا, فلا تطفئه بظلمة المعاصي

"Sesungguhnya aku melihat Allah telah menganugerahkan dalam hatimu cahaya, maka janganlah engkau padamkan ia dengan berbuat maksiat." (Jawabul Kafi, hal. (140))


2.      Imam Syafi'i berkata:
شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي, اعلم بأن العلم فضل وفضل الله لايؤته عاصي

"Aku mengadu kepada Waki' mengenai buruknya hafalanku. Ia menunjukiku agar aku meninggalkan maksiat. Ketahuilah bahwa ilmu itu karunia, dan karunia Allah tak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat." (Jawabul Kafi, hal. 140)


3.      Ibnul Mubarok berkata:
وهل أفسد الدين إلا الملوك وأحبار سوء ورهبانها

"Dan bukankah perusak agama ini adalah para Raja, sedangkan pendeta yang buruk adalah para rahibnya." (Tahdzib Syarhil Aqidatith Thahawiyah, hal. 326)


4.      Ibnul Mubarok  berkata:
رأيت الذنوب تميت القلوب وترك الذنوب حيات القلوب

"Aku melihat dosa mematikan hati, dan meninggalkan dosa dapat menghidupkan hati." (Ad-Da'u wad-Dawa', hal. 79)


5.      Hudzaifah bin Yaman berkata:
 
إذا أذنب العبد نكت في قلبه نكتة سوداء يصير قلبه كاالشاة الربداء 

"Jika seorang melakukan dosa, maka dalam hati-nya timbul titik hitam yang menyebabkan hatinya seperti kambing yang buta." (Ad-Da'u wad-Dawa', hal: 7)


 MUNAFIK


1.      Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
إن من النفاق اختلاف اللسان والقلب
 
"Sesungguhnya tanda kemunafikan adalah bedanya lisan dengan hatinya." (Ihya' Ulumuddin, I: 133)


2.      Ibnu Abbas dan para salaf lainnya berkata:


مثل هؤلاء في نفاقهم كمثل رجل أوقد نارا في ليلة مظلمة في مفازة فاستضاء ورأى ما حوله فاتقى مما يخاف فبينما هو كذلك إذ طفئت ناره فبقي في ظلمة خائفا متحيرا كذلك المنافقون بإظهار كلمة الإيمان أمنوا على أموالهم وأولادهم وناكحوا المؤمنين ووارثوهم وقاسموهم الغنائم فذلك نورهم فإذا ماتوا عادوا إلى الظلمة والخوف 

"Permisalan mereka dalam kemunafikan seperti seseorang yang menyalakan api di malam yang gelap dengan ketakutan, kemudian terlihatlah cahaya disekitarnya, dan ia tetap berhati-hati dari apa yang ia takuti. Secara tiba-tiba, padamlah lampu itu. Tinggallah ia dalam kegelapan, ketakutan dan kebingungan,

seperti itulah orang-orang munafik, mereka menampakkan keimanan mereka, demi keselamatan harta dan anak mereka, menikahi orang-orang yang beriman dan mendapat warisan serta ghanimah. Itulah cahaya mereka, jika mereka mati, mereka akan kembali kepada kegelapan dan rasa takut." (Ijtima'ul Juyusyil Islamiyyah, ibnul Qayyim, hal. 39)

AYO BERSIKAP BIJAKSANA.... DAN MENJAGA WIBAWA

 

BERSIKAP BIJAKSANA


1.      Abdurrohman bin Mahdi berkata:
لا يكون الرجل إماما يقتدى به حتى يمسك عن بعض ما سمع

"Seseorang tidak akan menjadi imam yang diikuti sampai ia mampu menahan diri dari sebagian berita yang ia dengar." (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama'ah fin Naqdi Wal Hukmi alal Akhorin, Hisyam bin isma'il Ash-Shaini, hal. 22)

2.      Syaikhul islam ibnu Thaimiyyah berkata:
العبرة بكمال النهاية لا بنقص البداية

"Pelajaran itu dengan kesempurnaan akhir, bukan kekurangan awal." (Minhajus Sunnah, VIII: 412)

3.      Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:
والمنصف من اغتفر قليل خطإ المرء في كثير صوابه

"Orang yang obyektif dalam menilai orang lain adalah orang yang bisa memaafkan sedikit kesalahan yang diperbuat seseorang dalam kebenarannya yang banyak." (Al-Qowa'idul Fiqhiyyah, Ibnu Rojab, 1: 2)

4.      Ibnu Daqiq Al-id berkata:

أعراض الناس حفرة من حفر النار وقف عليها المحدثون والحكام
"Kehormatan manusia adalah salah satu lubang neraka yang menjadi kubangan bagi orang yang menodainya dan para hakim." (Manhaj Ahlis Sunnah Wal-Jama'ah fin-Naqdi Wal-Hukmi alal Akhorin, Hisyam bin isma'il Ash-Shaini, hal. 20)

MENJAGA WIBAWA
 
1.      Ibrahim An-Nakha'i berkata: 

ليس من المروءة كثرة الالتفات في الطريق, وقال غيره : من كمال المروءة أن تصون عرضك وتكرم إخوانك وتقبل في منزلك

"Banyak menoleh bukanlah termasuk dari harga diri, harga diri adalah menjaga kehormatanmu, menghormati temanmu dan tidur di rumahmu." (Al-Adabusy Syari'ah, II: 335).