Minggu, 06 Oktober 2013

Muhasabah Diri Karena Pemimpin Adalah Cermin Rakyatnya

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya oleh seseorang: 
"Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? 
Jawab Ali: "Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu"(Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.)
----------------------------------------------------------------------
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم

Ibnul Qayyim berkata, "Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.

1. Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syari’at, maka tentu penguasanya pun demikian.
2. Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka.
3. Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat.
4. Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya.
5. Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya.
6. Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka. Dan setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya."

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. 
Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. 
Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.(Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)
----------------------
Para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,

وكذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يَكسبون

"Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." (QS. Al An’aam: 129).

Abul Walid Ath Thurthusyi rahimahullah berkata, "Jika engkau berkata bahwa para pemimpin di zaman ini tidak sama dengan para pemimpin di zaman dahulu, maka rakyat di zaman ini pun tidak sama dengan rakyat di zaman dahulu. Jika engkau mencela pemimpinmu bila dibandingkan dengan pemimpin dahulu maka pemimpinmu pun berhak mencelamu bila dibandingkan dengan rakyat dahulu. Maka apabila pemimpinmu menzalimimu hendaklah engkau bersabar dan dia yang akan menanggung dosanya…

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

إن اللّه لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. Ar Ra’du : 11)

Alloh SWT berfirman, "Demikianlah kami menjadikan sebagian orang yang zalim itu pemimpin atas sesamanya sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An’am:129)

Ayat di atas merupakan sebuah indikasi, menurut Imam Al-Razy bahwa selama rakyat terus-menerus berbuat zhalim, Alloh akan menghukum mereka dengan terpilihnya pemimpin zhalim setipe mereka. Artinya bila mereka ingin terlepas dari pemimpin model begitu, mereka terlebih dahulu harus berhenti melakukan kezhaliman.(Tafsir Mafatihul ghaib QS. Al-An’am:129, Maktabah Syamilah)

Jika rakyat berusaha mengoreksi kesalahnya lalu merubahnya, niscaya Allah akan mengganti pemimpin mereka dengan yang lebih baik. Bila mereka mengidam-idamkan pemimpin yang adil dan amanah seperti sahabat Abu Bakar radhiyallahu'anhu dan Umar radhiyallahu'anhu, mereka pun harus menjadi rakyat yang setipe dengan rakyat pada masa itu. 
kepemimpinan yang ideal akan sulit muncul bila rakyat pada kenyataannya amat jauh dari masyarakat yang ideal. "Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum melainkan bila mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Alloh menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang bisa menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS ar-Ra’d:11) 

Pesan Umar Bin Abdul Aziz Kepada Aparatnya 'Ady Bin Artha'ah'

~MUTIARA SALAF~
Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang aparatnya mengatakan :
Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :

“Segala puji hanya bagi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia.
Kemudian daripada itu : Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, 
tetaplah kamu berpegang dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridlailah untuk dirimu apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah yang tajam 
dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat (mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. 
Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan. 
Maka sebagian manusia ada yang telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah, hal. 212)

Sabtu, 05 Oktober 2013

Mari Berpegang Kepada Al-Qur'an dan as-Sunnah Dengan Pemahaman Salafush Shalih


Para ulama' peneliti (Muhaqqiqin) berkata.

وَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ وَكُلُّ شَرِّ فِي ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفْ

Segala kebaikan tertumpu dalam mengikuti Salafush Shalih. "Segala kejahatan tertumpu pada bid'ah para Khalaf (generasi sesudah Salaf)"

Ini bukan sya'ir, ini adalah perkataan yang disimpulkan dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" (QS.An-Nisa' : 115)

Mengapa Allah Jalla Jalaluhu mampu untuk berfirman.

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min"

Padahal Allah Jalla Jalaluhu mampu untuk berfirman.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali".

Megapa Allah berfirman ?

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min"

Yaitu agar seseorang tidak menunggangi kepalanya sendiri dengan mengatakan : "Beginilah saya memahami Al-Qur'an dan beginilah saya memahami Hadits".

Maka dikatakan kepadanya : "Wajib bagi kamu memahami Al-Qur'an sesuai dengan pemahaman orang-orang yang pertama kali beriman (Salafush Shalih).

Nash Al-Qur'an ini didukung oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang menguatkannya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang perpecahan yang terjadi pada umatnya,

beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّوَاحِدَة قَالُوْا مَنْ هِيَ يَارَسُوْلَ اللَّهِ؟ قَالَ : الجَمَاعَةُ وَفِي أُخْرَي : مَاأَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

"'Semuanya di neraka kecuali satu kelompok' para sahabat bertanya siapa kelompok itu ya Rasulullah ? beliau bersabda : "Al-Jama'ah". Dalam riwayat yang lain : "Sesuatu (ajaran dan pemahaman) yang mana aku dan para sahabatku berpijak padanya".

Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan kelompok yang selamat itu berada di atas pemahaman jama'ah, yaitu jama'ah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ? (Yang demikian itu) agar tertutup jalan bagi orang-orang ahli ta'wil dan orang-orang yang mempermainkan dalil-dalil dan nash-nash Al-Qur'an dan hadits.

Sebagai contoh, firman Allah Jalla Jalaluhu.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ


"Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat" (QS.Al-Qiyamah : 19-20)

Ayat ini adalah nash yang jelas dalam Al-Qur'an bahwa Allah Jalla Jalaluhu memberikan karuniaNya kepada hamba-hambaNya yang beriman pada hari kiamat, mereka akan melihat wajah Allah Jalla Jalaluhu yang mulia,

sebagaimana dikatakan oleh seorang faqih ahli syair yang beraqidah salaf.

يَرَاهُ الْمُؤْ مِنِيْنَ بِغَيْرِ كَيْفٍ وَتَشْبِيْةِ وَضَرْبٍ لِلْمِثَلِ

"Kaum mu'min melihat Allah tanpa takyif (menanyakan bagaimana), tidak pula tasybih (menyerupakan) dan memisalkan"

Mu'tazilah berkata : "Tidak mungkin seorang hamba bisa melihat Rabbnya di dunia maupun di akhirat",
(Jika ditanyakan kepadanya): "Akan tetapi kemana kamu membawa makna ayat itu ?" dia berkata : "Ayat itu bermakna : wajah orang-orang mukmin melihat pada kenikmatan Rabbnya".

Jika ditanyakan kepadanya : "Anda menakwilkan makna melihat Allah dengan arti (melihat kenikmatan Rabbnya) sedang Allah Jalla Jalaluhu berfirman : "Kepada Rabnyallah mereka melihat?" darimana kamu datangkan kata kenikmatan ? ia berkata : Ini adalah majas (kiasan).

Oleh sebab itu Ibnu Taimiyah mengingkari adanya majaz di dalam Al-Qur'an. Karena ia merupakan salah satu pegangan terkuat dan terbesar yang telah merobohkan aqidah Islam.

Ayat diatas, menetapkan suatu karunia dari Allah Jalla Jalaluhu kepada hambaNya yaitu mereka akan melihat wajah Allah Jalla Jalaluhu pada hari kiamat, tetapi orang-orang Mu'tazilah mengatakan ini tidak mungkin.
Demikian pula firman Allah Jalla Jalaluhu.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sessuatupun yang semisalNya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat" (QS.As-Syuura : 11)

(Orang yang berpaham Mu'tazilah berkata) : "Makna ayat itu bukan Maha Mendengar dan Maha Melihat !
Jika ditanyakan : "Mengapa?" mereka berkata : "Karena jika kita mengatakan Allah itu melihat dan mendengar maka kita telah menyerupakan Allah dengan diri-diri kita". Lalu ditanyakan kepada mereka : "Jika demikian halnya, apakah makna mendengar dan melihat ?". Yaitu mengetahui dan mendengar keduanya adalah lafadz dalam bahasa Arab.

Jadi mendengar dan melihat menurut mereka sama dengan mengetahui. Akan tetapi apakah masalahnya akan selesai hingga disini ?.

Jika dikatakan "fulan alim" dalam bahasa arab ini adalah ungkapan yang diperbolehkan. Dan boleh kita menyebut seorang manusia itu alim, yang bermakna "mengungkapkan dengan cara yang melebihkan sifat tentang orang tersebut".

Lalu dikatakan pada mereka : "Apakah boleh kita mengatakan bahwa fulan seorang alim ?". 'Ya', boleh, kalau begitu, kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah Jalla Jalaluhu itu Alim (Maha Mengetahui), karena hal itu akan menjadikan penyerupaan Allah Jalla Jalaluhu dengan hamba Allah Jalla Jalaluhu.

Demikianlah cara mereka menafikan atau meniadakan sifat-sifat Allah Jalla Jalaluhu. Hingga perkaranya sampai kepada pengingkaran mereka terhadap wujud Allah, baik mereka mengakui ataupun tidak mengakui, karena cara mereka yang demikian itu konsekwensinya menetapkan mereka (menginkari wujud Allah).

Dan semoga Allah merahmati Imam Ibnul Qayyim ketika beliau berkata :

المُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا وَ الْمُعَطِّلُ – يَعْنِي المُؤَوِّلُ – يَعْبُدُ عَدَمًا

"Orang yang menyerupakan Allah dengan mahluk menyembah patung, sedang Al-Muatthil (orang yang menolak penyerupaan Allah tapi menakwilkannya) menyembah sesuatu yang tidak ada".

Oleh sebab itu dari kalangan orang-orang yang tidak berpegang kepada metode Salafus Shalih tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, mereka berkata : "Allah tidak berada diatas". Nah ! Apakah engkau dapati dalam Al-Qur'an bahwa Allah tidak di atas ?

Kita mendapati dalam Al-Qur'an, Allah mensifati hambaNya.

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

"Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka"(QS.An-Nahl : 50)

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy" (QS.Thaha : 5)

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan" (QS.Al-Ma'arij : 4)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

"KepadaNya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya (QS.Faathir : 10)
Dan seterusnya, lalu mereka katakan : "Allah tidak berada di atas !!"
Kalau begitu berada di bawah ??
Mereka berkata : "Tidak berada dibawah !!"
Kalau begitu di sebelah kanan ??
Tidak !! tidak berada disebelah kanan ! Tidak, disebelah kiri ! Tidak, di depan dan tidak pula di belakang ! Tidak juga berada di dalam alam ini atau di luarnya !
Kalau begitu apa yang tersisa dari wujud keberadaan Allah ?! Yang tersisa adalah Al'Adam (tidak ada).

Inilah ilmu yang mana para ulama ahli kalam tanpa terkecuali terbelit dalam kesulitan dan binasa didalamnya, kecuali ulama yang berada diatas manhaj Salafush Shalih.
Semua ulama ahli kalam tanpa terkecuali, baik yang berpemahaman 'As'ariyah atau Maturidiyah, kecuali beberapa gelintir manusia diantara mereka yang beriman kepada apa yang dipahami oleh Salafush Shalih, sebagaimana perkataan sebagian dari mereka.

وَرَبُّ الْعَرشِ فَوْقَ الْعَرْشِ لَكِنْ بَلاَوَصْفِ التَّمَكُّنِ وَاتَّصَالِ

"Dan Rabbul Arsy (Allah) berada di atas Arsy, akan tetapi tanpa disifati dengan kemantapan dan menempel (Nya pada Arsy)"

Artinya : "Tiadalah sesuatu yang serupa denganNya" Allah mensifati dirinya bahwa Dia bersemayam diatas Arsy, dan Rabbul Arsy (pencipta Arsy) berada di atas Arsy akan tetapi tanpa disifati dengan kemantapan dan menempel(Nya pada Arsy).

Lihatlah wahai saudara-saudara kami khususnya para pemuda ! bukankah kita menginginkan untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang Islami, dan menginginkan berdiri di depan (menghadapi) kelompok atheis dan komunis, dan kelompok-kelompok semisal mereka ?!

Dengan apakah kita akan berdiri di depan (menghadapi) mereka ! Apakah dengan ilmu yang diambil dari Kitabullah dan Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai Manhaj Salafus Shalih ataukah dengan ilmu kalam ?

Akan tetapi aku katakan merupakan suatu kebaikan bagi kalian atau sebagian di antara kalian jika sesungguhnya dia belum pernah membaca ilmu kalam, ini adalah hak atau dia tidak mengetahui bahwa kadang-kadang ia mengetahui atau mendengar ini.

Lalu merasa heran, apakah ada kaum muslimin yang beraqidah semacam ini ?? (jawabnya) : "Ya, ada". Bacalah kitab "Ihya Ulumudin" karya Al-Ghazali, dan beberapa tulisan-tulisan yang baru yang telah dicetak dan menyebar di zaman ini "dengan nama aqidah".

Niscaya kalian akan dapati didalamnya pengingkaran itu dicetak dengan cetakan yang baru pada masa kini, dan (di dalamnya termaktub) bahwasanya Allah tidak berada di atas, tidak dibawah, tidak di sebelah kanan, tidak pula di sebelah kiri, dan seterusnya.


Oleh karena itu, semoga Allah merahmati salah seorang Umara' (penguasa) di Damaskus yang ikut hadir dalam sebuah dialog antara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan orang-orang yang bepemahaman Muatthilah (orang-orang yang menolak penyerupaan Allah tapi menakwilnya), tatkala ia mendengar perkataan mereka dan juga perkataan Ibnu Taimiyah yang bersandar pada Al-Qur'an dan Sunnah serta perkataan Salafus Shalih, iapun merasa puas dan yakin bahwa inilah (perkataan Ibnu Taimiyah yang bersandar pada Al-Qur'an dan Sunnah serta perkataan Salafush Shalih) aqidah yang benar. Lalu ia menoleh kepada Ibnu Taimiyah dan berkata :

هَؤُلاَءِ – يُشِيْرُ إِلَى الْمَشَايِخِ- قَوْمٌ أَضَاعُوْارَبَّهُمْ

"Mereka itu (sambil menunjuk ke arah para Syaikh yang menjadi lawan dialog Ibnu Taimiyyah) adalah suatu kaum yang meniadakan atau menyia-nyiakan Rabb mereka"

Ini adalah perkataan yang benar, mereka adalah kaum yang meniadakan Rabb mereka. Mengapa (mereka berkata) : "Allah tidak berada di atas, tidak dibawah, tidak disebelah kanan, tidak pula disebelah kiri, dan seterusnya ?"

Inti dari masalah yang saya sebutkan diatas " Apakah yang membinasakan ulama kaum muslimin??" terlebih lagi penuntut ilmu mereka ?? Dan lebih dari itu semuanya orang awam mereka kepada 'kerendahan' dan 'kesesatan yang nyata ini ??'

Kami menasehati setiap kaum muslimin di dunia ini agar 'menggabungkan' keharusan berpegang kepada kitab dan sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih. Dan kalau tidak demikian halnya maka setiap kelompok di dunia ini akan berkata : "Kita berada di atas Al-Qur'an dan Sunnah".

Oleh,
Syaikh al-Albani rahimahullah

Cinta Kepada Allah.. Takut Kepada Allah.. Wara'.. Dan Azam Yang Kuat..


CINTA KEPADA ALLAH

1.      Muhammad bin Wasi' berkata:
"إذا أقبل العبد بقلبه على الله, أقبل الله بقلوب العباد عليه
"Jika seorang hamba menghadapkan hatinya  kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hatinya para hamba-Nya kepadanya." (Siyar A'lam Nubala' : VI: 344)

2.      Hafidz Hakami rahimahullah berkata:
"وعلامة حب العبد ربه تقديم محابه وإن خالفت هواه وبغض ما يبغض وإن مال إليه هواه وموالاة من والى واقتفاء أثره الله ورسوله ومعاداة من عاداه واتباع رسوله وقبول هداه
"Tanda cinta seorang hamba kepada Rabbnya adalah mendahulukan cinta kepada-Nya meskipun hal itu bertentangan dengan hawa nafsunya, membenci apa yang membenci Rabbnya, meskipun nafsunya condong kepadanya, loyal [membela] kepada orang yang loyal kepada Allah dan Rasul-Nya, memusuhi orang yang memusuhi Allah,  mengikuti sunnah Rasul-Nya, Menapaki Atsarnya, dan menerima petunjuknya." (Ma'arijul Qabul, II: 424)

3.      Anas bin Malik radhiyallahu Anhu berkata:
"علامة حب الله حب ذكر الله 
"Tanda-tanda cinta kepada Allah adalah senang berdzikir kepada Allah." (Jami'ul Ahadits, XIV: 224)

4.      Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
"طوبى لمن استوحش من الناس وكان الله جليسه
"Berbahagialah orang yang di benci manusia, sedangkan Allah menyayanginya." (Jami'ul Ahadits, XIV: 224)

5.      Ibnul Mubarok rahimahullah berkata:
"تعصي الإله وأنت تظهر حبه, هذا لعمري في القياس بديع , لو كان حبك صادقا لأطعته, إن المحب لمن يحب مطيع
"Engkau bermaksiat kepada Allah, tetapi katamu engkau mencintai-Nya, sungguh  ini adalah analogi yang keliru. Kalaulah  benar  cintamu  kepada-Nya, engkau pasti menta'ati-Nya. Sebab, pecinta itu pasti ta'at kepada yang di cintai." (Ihya' Ulumuddin, IV: 331).

TAKUT KEPADA ALLAH

1.      Ibnu Mas'ud radhiyallahu Anhu berkata:
"كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار بالله جهلا
"Cukuplah rasa takut kepada Allah itu  sebagai ilmu, dan cukuplah durhaka kepada Allah itu sebagai kebodohan." (Al-Mawariduzh Zham'an, hal. 143)

2.      Fudhail bin Iyadh berkata:
"من خاف الله لم يضره أحد , ومن خاف غير الله لم ينفعه أحد
"Barangsiapa yang takut kepada Allah, tiada seorang pun yang  akan membahayakan nya. Barangsiapa yang takut kepada selain Allah, tiada seorang pun yang akan bermanfaat baginya." (Siyar A'lamin Nubala': VII: 634)

WARA'

1.      Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
"أهل السنة من عرف ما يدخل في بطنه من حلال
"Ahlu sunnah  adalah  orang yang tahu betul apa yang masuk ke perutnya adalah sesuatu yang halal." (Al-Wala' Wal-Baro', hal. 110)

2.      Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
"من أراد صفاء قلبه فليؤثر الله على شهوته
"Barangsiapa yang menginginkan bersihnya hati, hendaknya ia lebih mengutamakan Allah atas Syahwatnya." (Al-Fawa'id, hal. 98)

AZAM YANG KUAT

1.      Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"وهو العقد الجازم على المسير ومفارقة كل قاطع ومعوق ومرافقة كل معين وموصل وبحسب كمال انتباهه ويقظته يكون عزمه وبحسب قوة عزمه يكون استعداده
"Yaitu tekat yang kuat diatas jalan yang di tempuh, dan menghindari segala rintangan dan sesuatu yang menghindari segala rintangan dan sesuatu yang menghalangi, serta menempuh segala suatu yang menghantarkan kepadanya. Sejauh mana kesempurnaan perhatiannya dan kesadarannya tentang hal itu, maka sejauh itulah kekuatan azamnya. Dan sejauh mana kekuatan azamnya, maka sejauh itulah persiapannya." (Madarijus Salikin, I: 117)

   

Tentang Khusyuk.. Racun Hati.. Sabar.. Istighfar.. Do'a dan Dzikir






KHUSYUK

1.      Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu anhu berkata:

أول ما تفقدون من دينكم الخشوع , وآخر ما تفقدون من دينكم الصلاة , ورب مصل لا خير فيه , ويوشك أن تدخل المسجد فلا ترى فيهم خاشعا
"Urusan agama kaian yang pertama kali hilang adalah kekhusyukan, dan yang hilang terakhir dari agama kalian adalah  shalat. Banyak orang yang mengerjakan shalat namun tidak ada kebaikan di dalamnya. Hampir-hampir bila engkau masuk ke masjid untuk berjama'ah , maka engkau tidak melihat seorangpun diantara mereka yang khusyuk." (Madarijus Salikin, I: 521)

2.       Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu anhu berkata:

إياكم وخشوع النفاق فقيل له وما الخشوع النفاق قال : أن ترى الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع
"Jauhilah oleh kalian khusyu' Nifaq" Ada seorang yang bertanya, "Apakah itu khusyu' Nifaq?? Ia menjawab: "Engkau melihat jasadnya khusyuk tetapi hatinya tidak khusyuk." (Sababan Lil Khusyuk, hal. 2)

3.      Sahl bin Sa'ad radhiyallahu Anhu berkata:

من خشع قلبه لم يقربه شيطان
"Barangsiapa yang khusyuk hatinya (dalam shalat), maka syetan tidak akan mendekatinya." (Tahdzib Madarijus Salikin, I: 440)

4.      Al-Hakim bin Uyainah berkata:

من تأمل في صلاته عن يمينه وعن شماله فلا صلاة له

"Barangsiapa yang memperhatikan orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya pada waktu shalatnya, maka tidak ada shalat gaginya." ()Tanbihul Ghafilin,  hal. 251)

5.      Ibnu Abbas radhiyallahu berkata:
ركعتان في تفكر خير من قيام ليلة والقلب ساه
"Dua rakaat yang dilakukan dengan konsentrasi adalah lebih baik daripada shalat semalam suntuk, sedangkan  hatinya lalai." (Tahdzib Mau'idzatil Mu'minin, hal. 35)

6.      Bakr bin Al-Mazni rahimhullah ta'ala:
إذا أردت أن تنفعك صلاتك فقل لعلي لا أصلي غيرها
"Jika engkau ingin shalatmu bermanfaat dirimu, berkatalah, ''barangkali aku tidak  bisa shalat setelah ini." ((Tahdzib Mau'idzatil Mu'minin, hal. 521)).

RACUN  HATI

1.      Ibnul Mubarok rahimahullah berkata:

رأيت الذنوب تميت القلب , وقد يورث الذل إدمانها , وترك الذنوب حياة القلب , وخير لنفسك عصيانها
"Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati. Membiasakannya menyebabkan kehinaan. Meninggalkannya adalah kehidupan bagi hati. Selalu menjauhinya adalah yang terbaik  bagimu." (Tazkiyatun Nafs, hal. 33)

SABAR

1.      Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:
ما أنعم الله على عبد نعمة فانتزعها منه فعاض مكانها الصبر الا كان ما عوضه خيرا مما انتزعه
"Allah tidak memberikan kenikmatan kepada seorang hamba-Nya dengan suatu kenikmatan, kemudian ia mengambil nikmat itu darinya, lantas orang itu bersabar menerimanya, maka apa yang di gantikan oleh Allah itu lebih baik  dari yang telah diambil-Nya." (Tazkiyatun Nafs, hal. 112)

2.      Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
الفقر والغنى مطيتان ما أبالي أيهما ركبت , إن كان الفقر فإن فيه الصبر , وإن كان الغنى فإن فيه البدل
"Kekafiran dan kekayaan merupakan dua tunggangan, dan aku tidak peduli mana yang akan aku jadikan tunggangan. Jika fakir, maka ada kesabaran di dalamnya. Dan jika kaya, maka ada sedekah didalamnya." (Tahdzib Madarijus Salikin, II: 604)

3.      Al-Hasan rahimahullah berkata:
الصبر كنز من كنوز الخير , لا يعطيه الله عز وجل إلا لعبد كريم
"Kesabaran itu salah satu dari simpanan yang baik. Allah tidak akan memberikan kesabaran kecuali kepada hamba-hamba yang mulia di sisi-Nya." (Minhajul Qashidin, hal. 272)

4.      Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu berkata:
ابتلينا بالضراء فصبرنا, وابتلينا بالسرلء فلم نصبر
"Kami diuji dengan kesempitan dan kami pun bersabar. Namun , ketika kami dengan kelapangan justru kami tidak sabar." (Minhajul Qashidin, hal. 272)

5.      Syaqiq Al-Balkhi berkata:
من شكى مصيبة به إلى غير الله لم يجد في قلبه لطاعة الله حلاوة أبدا
"Barangsiapa mengadukan suatu musibah kepada selain Allah , maka selamanya ia tidak akan mendapatkan dalam hatinya manisnya ketaatan kepada Allah." (Minhajul Qashidin, hal. 276)
6.      Zuhair bin Nua'im berkata:
إن هذا الأمر لا يتم إلا بشيئين الصبر واليقين, قإن كان اليقين ولم يكن معه صبر لم يتم وإن كان صبر ولم يكن معه يقين لم يتم
"Sesungguhnya urusan Din ini tidak akan sempurna melainkan dengan dua hal: kesabaran dan keyakinan. Tidak akan sempurna keyakinan kalau tidak ada kesabaran. Dan , tidak akan sempurna kesabaran tanpa keyakinan." (Shifatus Shafwah, hal. 418)  

7.      Abu Thalib bin Abdus Sami' berkata:
الصبر على الشدائد ينتج الفوائد
"Sabar dalam kesusahan akan mendapat manfaat." (Tahdzib Siyar A'lamin Nubala', IV: 1363)

ISTIGHFAR

1.      Qatadah rahimahullah berkata:
أن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب وإما دواؤكم فالاستغفار
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya. Adapun penyakitnya adalah dosa-dosamu, sedangkan obatnya adalah istighfar." (Tazkiyatun Nafs, hal. 51)

2.      Fudhail  bin Iyadh rahimahullah berkata:
استغفار بلا إقلاء توبة المكذبين
"Istighfar yang tidak di sertai penghentian dari berbuat dosa merupakan taubatnya para pendusta." (Tahdzib Mau'izatil Mu'minin, hal. 74)

3.      Aisyah radhiyallahu Anha berkata:
طوبى لمن وجد في صحيفته استغفارا كثيرا
"Beruntunglah orang-orang yang mendapat dalam catatan amal perbuatannya memuat istighfar yang banyak." (Tazkiyatun Nafs, hal. 51)

4.      Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Anhu berkata:
ما ألهم الله سبحانه عبدا الإستغفار وهو يريد أن يعذبه
"Allah tidak  akan memberikan ilham kepada orang hamba-Nya untuk beristighfar, sedangkan Dia hendak memberikan adzab kepadanya." (Tazkiyatun Nafs, hal. 52)